Complement atau object?
Hai teman-teman…
Kali ini calon profesor mau ngasih info paling penting dlm dunia per-syntax an, kalo kalian ngerti konsep ini, insya’Alloh ke depannya syntax lebih mulus. Kali ini kita akan membahas bedanya object dan complement.
Kita pastinya sudah tahu bahwa verb ada dua: transitive dan intransitive verb.
Transitive verb: I eat banana.
Intransitive: I cry.
Selain itu, ada lagi yang disebut “ditransitive verb” yaitu verb yang bisa diikuti dua object sekaligus, ex:
I give him a book.
COMPLEMENT
Cukup dengan object, sekarang kita beralih ke complement. Ada beberapa definisi tentang complement. Yang paling gampang, kita bahas dulu mulai dari linking verb. Beberapa verb yang disebut linking verb hanya bisa diikuti dengan complement, linking verb itu diantaranya:
be (is, was, been, etc)
become
seem
remain
look
sound
kata-kata yang mengikuti linking verb tersebut di atas kita sebut complement. Contoh:
He is good.
She became angry.
It seems good.
It remains dry.
(linking verbs ga punya bentuk pasif, jadi kalo ada kata semacam “is remained”, itu bukan standard English)
Itu tadi definisi paling simple, sekarang ada lagi definisi lain dari complement, yaitu “bagian kalimat yang memberi informasi lebih jauh tentang subjek atau objek”, misal:
She is a doctor.
“a doctor” di sini kita sebut subject complement karena “a doctor” menjelaskan “she”. Sedangkan di contoh ini:
I call him Max.
“Max” disebut object complement karena dia menjelaskan “him”, objek dari kalimat tadi.
Nah, umumnya, complement itu munculnya di belakang verb, jadi kalo ada complement muncul di depan, berarti itu marked sentence (nanti akan dipelajari lebih jauh di syntax. Intinya, marked sentence itu kalimat yang tidak lazim tapi grammatikal). Complement yang ditaruh di depan biasanya memberikan arti, “only this and this alone”. contoh:
Max I call him. (Saya panggil dia Max, bukan Budi, Ali, ato Susi)
A doctor she is. (maksud: she is a doctor, not a nurse or anything else)
Mad he became.
Oke, sekian dulu. Sudah agak paham? Questions, silahkan komen…
Lesson 3: Pronouns
Personal Pronouns
Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal beberapa kata ganti orang, misalnya: aku, kami, kita, kamu, kalian, dia, mereka. Bahasa Inggris pun hampir sama.
Saya : I
Kamu, kalian : You
Mereka : they
Kami, kita : we
Dia (perempuan) : she
Dia (laki-laki) : he
Dia (benda) : it
Kita bahas satu-satu, ya.
Saya Susan.
I am Susan.
‘you’ bisa berarti ‘kamu’ atau ‘kalian’. Sangat normal dalam bahasa Inggris untuk memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan ‘you’ saja. Kita juga berkata ‘you’ untuk ‘kalian’, namun biasanya dalam kesempatan informal, kita juga bisa mengatakan ‘you guys’.
Kemudian ada kata ‘we’ yang bisa berarti ‘kami’ atau ‘kita’. Yah, dikira-kira, lah. Contoh:
We are doctors.
(jangan lupa, karena kata ‘we’ berarti lebih dari satu orang, kita tambahkan –s di belakang kata bendanya.)
Tidak seperti bahasa Indonesia yang hanya memiliki kata ‘dia’ untuk menyebut orang ke tiga tunggal (baik laki-laki atau perempuan), dalam bahasa Inggris, ada ‘she’ untuk menyebut orang ke tiga perempuan, dan ‘he’ untuk orang ke tiga ‘laki-laki’.
She is a dancer.
He is a mechanic.
Lalu ada kata ‘it’ untuk menyebut benda non manusia.
I have a cat. It eats meat.
I have a book. It is red.
Sidney is a big city. It is my hometown.
Kemudian ada kata ‘they’
They are students.
They are teachers.
Ketika kita katakan
John is a lawyer.
Bisa saja kita katakan dengan “He is a lawyer.”
Nah, sekarang coba ubah kata-kata yang dicetak tebal dengan pronoun yang sesuai!
Contoh:
Suzan is a dentist.
She is a dentist.
1. Tom is a mechanic.
2. Tuti is a housewife.
3. My cat is scary.
4. Hanson and Tom are magicians.
5. You and I are friends.
Selamat belajar semuanyaaa…!
Jigsaw Reading
Skill : Reading
Bisa juga ditambahkan writing dan speaking, tergantung gimana enaknya lah.
Level : Intermediate- advanced
waktu : 2 x 45 menit
Tema : The Princess’s Suitors (download ceritanya di sini)
Goal : Memahami makna teks fungsional pendek dan teks monolog sederhana berbentuk narrative dalam konteks kehidupan sehari-hari.
(Haiah, kelamaan. Intinya, siswa mampu memahami bacaan, gitu aja)
Indikator : 1. Siswa mampu menceritakan kembali…
Ah, bingung aku. Pokoknya siswa bisa menceritakan kembali cerita yang tadi dibacanya, dan bisa menjawab pertanyaan berdasarkan bacaan tadi.
Step:
- Carilah sebuah teks dan potonglah menjadi beberapa bagian. Dalam hal ini saya menggunakan cerita ”The Princess’s Suitors” yang dipotong menjadi empat bagian: A, B, C, dan D. Fotokopi potongan-potongan ini.
- Bagi siswa menjadi empat kelompok, lalu bagikan potongan cerita tadi pada para siswa, masing-masing kelompok mendapat satu potongan cerita.
- Beri waktu sekitar sepuluh atau lima belas menit pada siswa untuk memahami bagian cerita yang mereka dapatkan. Katakan pada mereka bahwa setelah waktu habis, anda akan menarik kembali kertas yang tadi dibagikan, oleh karena itu mereka harus menggunakan waktu sebaik-baiknya. Mereka bebas menggunakan kamus, ensiklopedia, atau apapun untuk memahami cerita. No notes!
- Setelah waktu habis, tarik kembali kertas yang tadi dibagikan. Bagilah siswa ke dalam kelompok baru. Satu kelompok harus terdiri dari para siswa dengan bagian cerita berbeda. Jadi satu kelompok harus ada yang membaca A, B, C, dan D. Jumlahnya tidak masalah, yang penting semua bagian cerita harus lengkap.
- Tugas setiap kelompok adalah menyusun sebuah cerita utuh dari cerita yang telah dibaca masing-masing anggota. Mintalah setiap kelompok untuk brainstorm. Masing-masing anggota harus menceritakan kembali secara lisan apa yang telah dibacanya (skill speaking bisa ditambahkan di sini). Lalu tiap kelompok harus mereka-reka jalan ceritanya berdasarkan apa yang diceritakan oleh para anggota.
Variasi:
- Anda bisa menambahkan skill writing dengan menghapus ending ceritanya, dan minta masing-masing kelompok berimajinasi menceritakan akhir kisahnya. Bandingkan versi masing-masing kelompok.
- Anda bisa membagikan worksheet pada masing-masing kelompok yang hanya bisa dijawab jika semua anggota memahami isi ceritanya.
- Setiap kelompok tidak mendapatkan satu potongan cerita. Masing-masing kelompok harus mereka-reka bagaimanakah potongan cerita yang hilang itu.
- Minta masing-masing kelompok untuk membuat cerita “The Princess’s Suitors” dengan berbagai versi, mungkin versi Korea, Jepang, Hollywood, etc.
- Minta mereka berimajinasi, jika mereka harus membuat cerita itu ke dalam sebuah film, siapa saja aktor dan aktris yang akan mereka jadikan pemainnya.
Conversation 1: Introducing Self
Nih, contoh conversation bahasa Inggris. Sedikit memang, tapi cukup lumayan untuk gaya-gayaan atau sekedar kenalan sama bule. Tapi jika terjadi hal-hal di luar scenario, yah, improvisasi saja lah. Biasanya bule akan mengerti, jika bahasa Inggris kita tidak terlalu baik, dia akan menggunakan kata-kata yang simple.
Jack : Well, Annie, this is Bella. She is my sister. Bella, this is Annie, my classmate.
Annie : Hi, Bella, nice to meet you.
Bella : Nice to meet you too, Annie.
Koq pada diem? Harus diartikan, kah? Baiklah… ![]()
Jack : Annie, ini Bella. Dia saudara perempuanku.*) Bella, ini Annie, teman sekelasku.
Annie : Hai, senang bertemu denganmu.
Bella : Aku juga senang bertemu denganmu.
*) Orang-orang bule menyebut “sister” untuk saudara perempuan, baik kakak atau adik. Kita tidak akan menemukan orang Barat memanggil Mas atau Mbak kepada orang yang lebih tua, sehingga dalam kasus ini kita bisa melihat bahwa Jack memanggil Bella hanya dengan nama.
Jangan lupa, setelah selesai menyebut nama, kita ucapkan, “Nice to meet you.” Untuk kesempatan yang lebih formal, biasanya digunakan, “How do you do?” kalimat ini lebih berarti, “Senang berkenalan denganmu” dan bukan kalimat tanya, sehingga kalimat ini akan dijawab juga dengan, “How do you do.” Kalimat ini hanya akan diucapkan sekali ketika pertama kali berkenalan (tentu saja kita tidak akan mengucapkan “Senang berkenalan denganmu” setiap hari berulang-ulang pada orang yang sama).
Robert: Hello, I’m Robert.
Bill: Hello. I’m Bill. How do you do?
Robert: How do you do.
Oh ya, jangan lupa perhatikan sopan santun saat perkenalan. Orang bule tidak suka dengan pertanyaan yang terlalu pribadi, seperti pertanyaan, “Are you married?” Topik perbincangan yang paling netral adalah mengenai cuaca, seperti, “It is really cold today, isn’t it?” (dingin banget, yah?)
Terus ini ada contoh kalimat kalau kebetulan teman-teman diminta perkenalan di kelas atau sejenisnya:
Hello everyone, my name is Tom Ryder. You can call me Tom. I am a student. I live in Bandung.
Sekarang, ganti kata-kata yang dicetak merah dengan di table ini:
| Full name | nickname | occupation | address |
| Susi similikiti | Kiti | Singer | Jayapura |
| Bela Suan | Bell | Nurse | MEdan |
| Charli Winarno | Charli | Dentist | Jakarta |
Kemudian terakhir, ganti dengan identitasmu sendiri! Selamat berjuang!
Wah, ternyata sudah jam 22.40! ![]()
Lesson 2: This is an apple, and that is an orange
This adalah kata tunjuk untuk benda tunggal dan berarti ‘ini’ (benda yang dekat dengan pembicara), sedangkan ‘that’ berarti ‘itu’ (jauh dengan pembicara).
This is a banana.
That is a water-melon.
This is a tomato.
That is a coconut.
(Silahkan lanjutkan sendiri ya… lagi males nulis nih.
)
Selain untuk menyebutkan nama benda, kita bisa menggunakan ‘this’ untuk menunjuk manusia, misalnya, “Hi, Adam, this is Mary.” Kita tidak mungkin mengucapkan, “It is Mary,” mengucapkan ‘It’ untuk memanggil orang lain akan dianggap merendahkan.
Sekian dulu ya! See you…
A Uniform atau An Uniform?
Seperti yang kita ketahui bersama, artikel ‘a’ akan mengikuti kata yang dimulai dengan bunyi konsonan, seperti contoh di bawah ini:
It is a cat.
It is a book.
It is a ruler.
It is a dog.
Sedangkan artikel ‘an’ akan mengikuti kata yang dimulai dengan bunyi vocal, seperti:
It is an umbrella.
It is an eel.
It is an envelope.
It is an ox.
Tapi bagaimana dengan kata-kata berikut:
A hour atau an hour?
A heir atau an heir?
Nah, teman-teman sekalian, artikel ‘a’ dan ‘an’ sebenarnya bukan ditinjau dari “huruf” yang memulai kata itu, melainkan dari “bunyi” yang memulainya. Untuk kata yang dimulai dengan huruf H, terkadang ada beberapa kata di mana huruf H harus dilafalkan, dan ada kata-kata di mana huruf H tidak dilafalkan. Jika kita lihat pada kamus (lihat kamus terpercaya seperti Oxford atau Cambridge untuk lebih jelasnya), huruf H pada kata ‘hour’, ‘heir’,dan pada beberapa kata lain, tidak diucapkan, sehingga secara praktis kata tersebut dimulai dengan BUNYI vocal. Maka, yang benar adalah ‘an hour’,’an heir’, ‘an honor’, dan seterusnya. Sementara untuk huruf H yang dilafalkan, maka akan menjadi ‘a horse’, ‘a history’, ‘a hill’ dan sebagainya.
Kini coba tebak mana yang benar:
A uniform atau an uniform?
A university atau an university?
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, artikel ‘a’ dan ‘an’ sebenarnya bukan ditinjau dari “huruf” yang memulai kata itu, melainkan dari “bunyi” yang memulainya. Pada kata di atas, huruf U dilafalkan dengan ‘yu’ (bunyi konsonan), maka yang benar adalah ‘a uniform’ dan ‘a university’. Sedangkan untuk kasus di mana huruf U tidak dilafalkan dengan suara ‘yu’, maka akan tetap diberi artikel ‘an’, seperti ‘an umbrella’ atau ‘an ugly duck’.
Selamat berlatih! Kalau ada yang kurang jelas silahkan komen saja ya…
![]()
Lesson 1: It is a book
‘it’ adalah pengganti kata benda tunggal. Secara umum, bisa kita katakan bahwa ‘it’ berarti ‘ini’ atau ‘dia’. Sehingga ketika kita ingin menyebutkan nama suatu benda, kita bisa mengatakan, “It is a…” Lihat contoh di bawah ini:
It is a book
It is a ruler
It is a table.
It is a pen
Khusus kata yang dimulai dengan bunyi vokal (a,i,u,e,o), kita tidak akan mengatakan, “It is a…” melainkan “It is an…” seperti contoh berikut:
It is an envelope.
it is an eraser
“It is…” seringkali disingkat menjadi “It’s…” sehingga kita bisa mengatakan “It’s a book,” “It’s a pen,” dsb. Kita bisa menggunakan “It’s a…” untuk menyebutkan nama benda non manusia, seperti hewan, tumbuhan, buah, nama-nama barang di kelas, dll (asal non manusia).
Sekarang, coba sebutkan nama-nama benda di sekeliling anda dengan bahasa Inggris!
baca juga:
Tips Wawancara Kerja
1. Datang minimal 15 menit sebelum wawancara. Jika karena suatu hal anda terpaksa datang terlambat, buatlah janji terlebih dahulu dengan pihak pewawancara.
Ah, hal-hal semacam itu pasti anda sudah tahu. Lebih baik saya memberitahu anda hal lainnya. Dari pengalaman wawancara kerja yang pernah saya ikuti, berikut ini adalah pertanyaan menjebak yang sering diajukan:
1. Biasanya, pewawancara akan menakut-nakuti anda dengan mengatakan, “Mbak/ Mas, anda serius mau kerja di sini? Kerjanya berat, lho. Biasanya saya sering marah-marah kalau dikejar deadline. Itu coba tanya orang-orang bagian X, pasti mereka semua pernah saya marahi. Nih lihat, kerjaan numpuk segini. Yakin Mbak berani?”
Saat menghadapi pertanyaan semacam ini, tetap yakinkan pihak pewawancara bahwa anda mampu, walaupun sebenarnya dalam hati pasti anda merasa pesimis. Yakinkan dia bahwa anda suka tantangan. Setelah anda mengatakan semua itu, biasanya Si Pewawancara akan mengatakan, “Nggak koq, Mbak/Mas. Kerjaan di sini santai. Tuh, liat, Mbak X jam segini malah Facebook-an. Kita di sini sistemnya kerja sama, bla… bla… bla…”
2. “Mbak, gaji di sini kecil lho.”
Seperti yang saya katakan tadi, tetap tunjukkan bahwa anda benar-benar ingin bekerja di tempat itu. Mungkin anda bisa mengatakan, “Yah, mungkin benar gajinya tidak seberapa. Tetapi banyak hal yang bisa saya pelajari di sini, dst.”
Biasanya setelah itu Si Pewawancara berkata, “Jangan khawatir, Mbak. Di sini selain gaji bulanan, anda juga mendapat bonus etc etc etc…”
3. “Anda ingin gaji berapa?”
Jika anda tak yakin ingin menyebutkan angka tertentu, katakan saja, “Saya akan mengikuti aturan perusahaan ini.”
Saya menyarankan jawaban demikian karena salah-salah anda malah menyebutkan angka yang terlalu kecil, seperti pengalaman seorang saudara-guru-SMA saya (saya harap anda tidak bingung dengan frasa tadi), sebut saja Miss K. Saat wawancara, dia menyebut angka 2 juta rupiah. Akhirnya, dia pun hanya mendapatkan jumlah tersebut per bulan. Padahal rekan-rekannya mendapatkan gaji 5 juta rupiah per bulan.
Atau sebaliknya, anda menyebutkan angka yang terlalu besar, sehingga membuat Si Pewawancara berpikir, “Hei, lihat siapa dirimu!”
Akan lebih baik jika anda melakukan survey terlebih dahulu (keuntungan lain dari berangkat lebih awal adalah anda dapat mengobrol dulu dengan para karyawan perusahaan tersebut). Jangan menyebut angka yang fantastis kecuali jika memang anda yakin dengan kelebihan anda, “Pak, selain saya lulusan jurusan pertambangan, saya juga mahir mengoperasikan komputer, desain grafis, dsb.”
Oh ya, guru SMA saya memberi tips. Saat anda mendatangi suatu perusahaan sambil membawa map, biasanya satpam akan menegur anda, “Mas, mau ke mana?”
Jangan berkata, “Saya mau melamar kerja,” karena biasanya satpam akan berkata, “Di sini tidak ada lowongan.”
Guru saya menyarankan untuk menjawab, “Ini, saya mau konsultasi sama Bu X.” Terkadang ada lowongan yang memang hanya diketahui oleh orang dalam, oleh karena itu perluaslah network anda. Lagipula biasanya perusahaan akan lebih memprioritaskan pelamar yang mengetahui info lowongan dari orang dalam dibandingkan mereka yang mengetahuinya dari iklan di koran.
Semoga sukses. Walaupun saya masih mahasiswa, saya sudah mempraktekkan cara-cara tersebut dan alhamdulillaah berhasil. (*akibat dari cepat bosan adalah sering berganti pekerjaan paruh waktu.)
//
Menjadi Guru Privat
Huahm… Saat itu hari Senin pukul 2 siang. Waktu yang pas untuk tidur siang demi kecantikan, tetapi aku malah menghadiri kuliah Foreign Language Teaching Management. Waktu itu Mrs. DR menerangkan tentang cara jitu menjadi tutor privat yang oke.
Kata Mrs. DR, mahasiswa Bahasa Inggris tuh peluang cari duitnya banyak. Salah satu andalan mahasiswa jurusan Bahasa Inggris untuk mencari uang saku tambahan adalah dengan mengajar les Bahasa Inggris, baik mengajar di lembaga kursus atau privat. Ketika memutuskan untuk menjadi tutor privat, pastikan agar anda membuat sebuah brand untuk diri anda sendiri. Buat sebuah patokan harga, “Tarif saya Rp 35.000,00 sekali pertemuan, take it, or leave it.” Pastikan bahwa anda memang pantas untuk dihargai sekian. “Dengan sekian kali pertemuan, saya jamin putra putri Ibu dapat menguasai ini, ini, dan itu.” Jangan pernah menurunkan harga, karena yang dipertaruhkan adalah image anda.
Jangan lupa untuk berpromosi. Bagi seorang tutor privat, promosi dari mulut ke mulut masih tetap alat promosi yang ampuh. Bukan tidak mungkin ketika arisan, seorang ibu akan berkata tentang anda, “Aduh, Mbak X itu emang tarifnya mahal, Jeng, tapi anak saya nilainya bagus-bagus, lho, sejak les sama Mbak X.”
Menurut Mrs. DR, ketika mendapatkan satu calon klien, jangan langsung mengiyakan, jual mahal dikit, lah. “Oke, sebentar (*sambil sok-sokan liat agenda). Oh, ini saya ada hari kosong hari Jum’at sama Rabu, nih, tapi nggak tau juga, ya, soalnya anaknya Bu Julia katanya mau les juga sama saya.”
Ketika Si Calon Klien berkata, “Aduh, Mbak, koq mahal banget, sih?” jawab saja, “Wah, itu sih murah, Bu. Bulan depan aja saya naik lima ribu.”
Tapi jangan pernah berbohong hanya demi mendongkrak tarif, ya, ada banyak cara lain untuk meraih sukses selain berbohong.
Sudah terlanjur menetapkan tarif yang terlalu murah untuk diri anda? Nih, tips dari Mrs. DR.
Temui orangtua dari murid kita, lalu katakan “Bu, ternyata setelah saya perhatikan, anak ibu punya bakat pidato, lho (*sambil kita mem-blow up Si Anak). Saya bisa latih anak ibu supaya menang lomba debat. Tapi, otomatis tarifnya nambah, nih, Bu. Soalnya kan saya harus nyari materi dan nyiapin tenaga ekstra.”
Muncul pertanyaan dari seorang kakak tingkat, “Bu, saya nggak punya kendaraan pribadi.”
“Aduh, kreatif, dong. Cari temen yang punya motor nganggur, ajakin kompromi. ‘Eh, pinjem motor, ya. Aku mau ngajar les, nih. Ntar bensin kuisi deh.’ atau ‘Ntar hasilnya kubagi deh.’”
Aha! Itulah catatan kuliahku.